KOMPAS.com - Hujan lokal di sejumlah daerah yang terjadi pada musim kemarau ini membuat genangan air gampang terbentuk dan nyamuk mudah berkembang biak. Akibatnya, selama Juni-Agustus ini, sejumlah kasus demam dengue dan demam berdarah dengue bermunculan di beberapa tempat. Meski demikian, penyakit yang disebabkan virus dengue itu belum ada obat dan vaksinnya hingga kini.

Infeksi virus dengue tercatat sudah ada di Indonesia sejak abad ke-18. Ketika itu, penyakit ini disebut demam lima hari (vijfdaagse koorts) karena demam korban akan hilang dalam lima hari ataupun demam sendi (knokkel koorts) karena demam muncul disertai nyeri sendi, otot, dan kepala. Pada masa itu, infeksi dengue hanya penyakit ringan yang tak mematikan.

Sejak 1952, infeksi virus dengue dengan manifestasi klinis berat yang disebut demam berdarah dengue (DBD) ditemukan di Manila, Filipina. Dalam waktu singkat, DBD menyebar ke sejumlah negara, mulai dari India hingga kawasan Indochina. Pada 1968, kematian tinggi akibat DBD ditemukan di Surabaya, Jawa Timur, dan Jakarta.

Kini, DBD sudah ditemukan di seluruh Indonesia. Sebanyak 200 kota tercatat pernah melaporkan kasus luar biasa DBD. Dalam waktu 30 tahun, angka kejadian DBD di Indonesia telah melonjak dari 0,005 per 100.000 penduduk menjadi 6-27 persen per 100.000 penduduk atau naik 1.200-5.400 kali.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi, perkembangan kota tak terencana, hingga kurangnya kontrol pada vektor nyamuk di daerah endemis membuat virus dengue mudah menyebar. Kemajuan transportasi kian membuat nyamuk Aedes aegypti dan virus dengue pindah lebih jauh.

Hingga kini, virus dengue tersebar ke lebih dari 100 negara. Pemanasan global membuat penyakit itu menyebar kian luas. Sebanyak 2,5 miliar penduduk Bumi di daerah tropis dan subtropis terancam, 75 persen di antaranya ada di Asia Pasifik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, 390 juta orang terinfeksi virus dengue setiap tahun dan 22.000 orang tewas, sebagian besar di antaranya anak dan remaja.

Vaksin
Lebih dari 60 tahun sejak virus dengue yang ganas ditemukan, hingga kini belum ada obat dan vaksin untuk mengatasi demam dengue dan DBD. Karena itu, pengendalian perkembangan nyamuk Aedes aegypti adalah kunci pencegahan.

Pencegahan perkembangan nyamuk adalah upaya kesehatan berbasis masyarakat yang menuntut komitmen kuat dan luas masyarakat. Meski lingkungan sekitar rumah sudah terbebas dari sarang nyamuk, siapa pun masih bisa digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue di tempat kerja, sekolah, mal, hingga di perjalanan.

Karena itu, pencegahan bersifat individu dengan pemberian vaksin diperlukan. Vaksin adalah bibit penyakit yang sudah dilemahkan sehingga sifat menyebabkan penyakitnya tak ada.

Pemberian vaksin untuk mengenalkan identitas penyakit tertentu pada tubuh sehingga tubuh membentuk pertahanan adaptif dan spesifik pada bibit penyakit itu. Dengan demikian, saat bibit penyakit sesungguhnya atau yang belum dilemahkan datang, tubuh bisa langsung mengenalinya dan membentuk kekebalan adaptif dan spesifik. ”Tanpa vaksin, tubuh butuh 1-2 minggu membentuk kekebalan spesifik untuk melawan bibit penyakit,” kata ahli virologi, yang juga Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Biodiversitas Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Afiono Agung Prasetyo, di Jakarta, Senin (18/8).

Dalam rentang 1-2 minggu itu, bibit penyakit bisa masuk ke berbagai organ tubuh sehingga dampaknya lebih membahayakan. Sejumlah peneliti serta industri dalam dan luar negeri meneliti vaksin dengue. Salah satu kandidat vaksin yang menjanjikan adalah Chimeric Yellow Fever 17D-Tetravalent Dengue Vaccine (CYD-TDV) yang digagas perusahaan farmasi Perancis, Sanofi Pasteur, bersama Universitas Mahidol, Thailand, sejak 1994.

Bahan dasar CYD-TDV adalah virus chimera, virus rekombinasi yang dibuat dengan menyubstitusikan protein virus pada virus lain. Pada CYD-TDV, bagian imunogenik virus dengue hidup yang dilemahkan digabungkan dengan bagian nonstruktural dan kapsid (selubung protein) virus yellow fever.

Pencarian bahan dasar virus itu butuh waktu lama. Kesulitan terbesar adalah virus dengue memiliki empat jenis serotipe virus, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Serotipe yang ada di satu negara bisa beda dengan di negara lain.

Tedjo Sasmono dkk dalam Identifikasi Genotipe dan Karakterisasi Genome Virus Dengue di Indonesia untuk Penentuan Prototipe Virus Bahan Pembuatan Vaksin Dengue Berbasis Strain Indonesia dalam Prosiding Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional 2012 menyebut, semua serotipe itu ada di Indonesia.

Namun, serotipe dominan di setiap kota berbeda. Di Jakarta dan Surabaya, empat serotipe itu ditemukan. Di Medan, ada DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Akan tetapi, di Samarinda, hanya ada DENV-4 dan di Banjarmasin hanya DENV-1.

Triwibowo Ambar Garjito dalam Vaksin Dengue dan Perkembangannya Saat Ini dan di Masa Mendatang di Media Litbang Kesehatan Volume XVII Nomor 4 Tahun 2007 menyebut, vaksin harus bersifat tetravalen. Artinya, mampu simultan menimbulkan imunitas level tinggi dan jangka panjang pada 4 serotipe virus sekaligus.

Hal itu karena orang yang sudah terinfeksi virus dengue serotipe tertentu dan membentuk antibodi pasif jika ia terkena infeksi virus dengue dari serotipe berbeda, keganasan infeksinya akan naik.

Hambatan lain pengembangan vaksin dengue adalah tak ada hewan uji yang bisa dipakai untuk mengevaluasi kandidat vaksin dalam organisme hidup. Akibatnya, pemantauan perkembangan dan evaluasi kandidat vaksin berjalan lambat.

Vaksin CYD-TDV itu masuk uji klinik tahap ketiga. Studi yang dilakukan di Indonesia (Jakarta, Bandung, dan Denpasar), Malaysia, Filipina, Thailand, serta Vietnam itu dipublikasikan di The Lancet, 11 Juli 2014. Hasilnya, tingkat efikasi vaksin 56,5 persen. Vaksin juga menurunkan 88,5 persen kasus DBD dan 67 persen risiko rawat inap. ”Tak ada efek samping selama proses uji, bahkan pada ibu hamil dan janin,” kata pimpinan studi Maria Rosario Capeding dari Lembaga Penelitian Kedokteran Tropis Filipina kepada Kompas di Angeles City, Filipina, Juni lalu. Sejumlah uji klinik akan dilakukan untuk meningkatkan efikasi vaksin, khususnya di daerah endemik dengue.

Vaksin itu ditargetkan bisa dipasarkan pada 2016. Hal itu mendukung target WHO pada 2020 untuk menekan angka kematian akibat dengue 50 persen dan menurunkan 25 persen angka kesakitan akibat dengue.

Buatan Indonesia

Tak mau tertinggal dengan peneliti dari negara lain, ilmuwan Indonesia yang tergabung dalam Konsorsium Vaksin Dengue, kini, mengerjakan pembuatan vaksin dengue secara mandiri. Para ahli itu berasal dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dari perguruan tinggi, yang tergabung adalah Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Biofarma, satu-satunya perusahaan vaksin nasional, yang ikut dalam konsorsium itu.

Peneliti utama sekaligus Manajer Integrasi Proyek Divisi Riset Biofarma Neni Nurainy mengatakan, kini konsorsium dalam tahap riset dasar untuk mencari bahan baku vaksin. Artinya, butuh 15-20 tahun lagi agar vaksin buatan dalam negeri itu bisa dipasarkan.

Meski tertinggal jauh dengan vaksin dengue buatan Sanofi Pasteur, Neni dan peneliti lain yakin vaksin buatan mereka bisa bersaing karena memakai pendekatan dan teknologi berbeda. Vaksin dibuat berbasis kondisi virus dan sosial budaya Indonesia. ”Vaksin akan lebih aman karena dibuat bebas dari bahan bersumber binatang lain dan dijamin kehalalannya,” ujarnya.

Karena bebas dari hewan lain sebagai bahan bakunya, vaksin bisa dibuat dari rekombinan protein virus atau berbahan baku DNA virus. Meski belum dipastikan bahannya, para peneliti menargetkan tingkat efikasi vaksin lebih dari 80 persen.

Afiono menambahkan, tak ada vaksin yang punya efikasi hingga 100 persen. Jadi, tak ada vaksin yang bisa melindungi seseorang dari penyakit 100 persen. Vaksinasi hanya akan mengurangi risiko seseorang terinfeksi penyakit atau mengurangi tingkat keparahan penyakit.

 

Keberhasilan vaksin juga ditentukan kondisi bibit penyakit. Semakin banyak bibit penyakit mutasi saat diuji, tingkat efikasi vaksin akan turun. Setiap individu punya kondisi genetik berbeda yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.dbs/arz