KOMPAS.com - Organisasi kesehatan dunia (WHO) meminta perusahaan farmasi dan badan yang berwenang untuk bekerja sama demi mempercepat pembuatan obat dan vaksin ebola untuk mengatasi wabah yang makin tak terkendali. Dari 10 percobaan, 8 obat dan dua kandidat potensial vaksin, telah menunjukkan terapi pengobatan yang menjanjikan dalam melawan virus ini.

Obat yang sudah diuji coba antara lain obat antibodi ZMapp yang dibuat oleh perusahaan farmasi AS dan diberikan kepada beberapa pasien ebola untuk tujuan "perawatan belas kasih" tetapi efektivitas klinisnya masih "belum jelas".  WHO mengatakan, efektivitas dari obat dan vaksin yang ada masih sugestif tetapi belum berdasar bukti ilmiah yang solid dari uji klinik. Obat-obatan tersebut juga masih sangat terbatas.

 

Salah satu perusahaan farmasi yang siap melakukan uji coba vaksin pada manusia adalah GlaxoSmithKline. Sementara itu Johnson & Johnson mengatakan vaksin buatan mereka kemungkinan akan siap pada tahun 2015. Virus ebola sejauh ini telah membunuh setidaknya 1.900 orang di Afrika Barat sejak bulan Maret dan diperkirakan dalam 6-9 bulan mendatang akan menular pada 20.000 orang. WHO mengatakan, untuk mengendalikan dan menghentikan virus ebola, setidaknya diperlukan dana 490 juta dollar AS (sekitar Rp 5,7 triliun). Namun, Pejabat Senior PBB untuk Koordinasi Ebola David Nabarro menyatakan, total dana yang diperlukan bisa saja lebih tinggi. ”Setidaknya diperlukan 600 dollar AS (sekitar Rp 7 triliun), bahkan lebih, untuk mendukung negara-negara tersebut agar ebola bisa dikendalikan,” kata Nabarro.dbs/arz