Bisnis.com, JAKARTA—Tren penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dirasakan menambah beban industri farmasi. Menurut data Bloomberg, sampai penutupan perdagangan akhir pekan lalu, rupiah mencatatkan penurunan sebesar 2,59% menjadi Rp13.498 per dolar AS dibandingkan dengan level terkuat pada 11 September 2017 yang sebesar Rp13.156 per dolar AS.

Vincent Harijanto, Ketua Penelitian dan Pengembangan Perdagangan dan Industri Bahan Baku Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi), mengatakan saat ini sebagian besar bahan baku industri farmasi masih diimpor. Pengaruh pelemahan rupiah yang dirasakan sejak 2 bulan yang lalu menambah beban produsen farmasi karena sebelumnya harga bahan baku telah meningkat akibat kebijakan environment protection yang dikeluarkan pemerintah China. “Pengaruh exchange rate lebih berat untuk industri, karena sebelumnya dengan kebijakan environment protection beberapa pabrik bahan baku di China ditutup. Pasokan menurun sehingga harga naik,” ujarnya kepada Bisnis.com belum lama ini. Dia menyebutkan beberapa bahan baku obat yang mengalami kenaikan harga antara lain paracetamol, yang sebelumnya US$3 per kilogram naik 20% menjadi US$3,6 per kilogram, dan amoxicillin yang mengalami kenaikan sebesar 50% dari US$16 per kilogram menjadi US$24 per kilogram.

Dengan kenaikan harga bahan baku ditambah dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga jual obat pun tak terhindarkan. Kendati harga obat naik, produsen farmasi terbatas dalam menaikkan harga karena dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) harga obat tidak dapat dipatok terlalu tinggi agar terjangkau oleh masyarakat.

Lebih jauh, Vincent berharap dalam perjanjian terkait program JKN, terdapat klausul yang membahas tentang pelemahan rupiah terhadap dolar AS karena bahan baku yang masih diimpor. “Misalnya rate naik 1% masih bisa diserap, tetapi kalau naik 5% ada penyesuaian,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional skala menengah dan besar tumbuh sebesar 4,64% secara tahunan (y-o-y) pada kuartal III/2017. Vincent menyatakan pertumbuhan industri farmasi telah melambat sejak awal tahun ini. Terkait dengan permasalahan bahan baku farmasi yang sebagian besar masih impor, Vincent berharap pemerintah dapat memberikan kejelasan insentif yang akan diberikan kepada investor yang akan berinvestasi di dalam negeri dan juga jaminan bahan baku yang diproduksi di dalam negeri diserap oleh industri.

 

Adapun, salah satu BUMN bidang farmasi, yaitu PT Kimia Farma Tbk. telah menyelesaikan pembangunan fisik pabrik bahan baku farmasi. Pabrik ini diperkirakan mulai beroperasi pada semester II tahun depan. Direktur Utama Kimia Farma Honesti Basyir mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan instalasi mesin dan peralatan lainnya. Kimia Farma telah melakukan ground breaking pabrik bahan baku obat kimia dengan kapasitas produksi 30 ton per tahun pada kuartal IV tahun lalu. Dalam pembangunan pabrik ini, emiten dengan kode saham KAEF tersebut menggandeng investor asal Korea Selatan PT Sungwun Pharmacopia Indonesia, perwakilan Sungwun Pharmacopia Co.Ltd. Jenis bahan baku obat yang akan diproduksi sebanyak 8 item, antara lain simvastatin, atorvastatin, rosuvastatin, pantoprazole, esomeprazole, rabeprazole, copidogrel dan sarpogrelate dengan total kapasitas produksi 30 ton per tahun.