KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi masih optimistis memandang bisnis obat di 2018 ini. Meski tahun ini masih bakal dipenuhi tantangan layaknya tahun 2017 lalu. Jika di tahun-tahun sebelumnya industri farmasi bisa menikmati pertumbuhan bisnisn dobel digit, kisaran 10-15% setiap tahunnya, sekarang raihan tersebut masih sulit dikejar. "Meski secara volume naik, namun dari sisi harga terus turun," ujar Ketua Litbang GP Farmasi Indonesia Vincent Harijanto kepada KONTAN, Senin (1/1).

Sampai akhir tahun 2017 saja Vincent memprediksi pertumbuhan industri ini tidak lebih dari single digit saja. "Mungkin masih di bawah 10%," katanya. Sedangkan perkembangan pasar obat secara nilai sampai dengan kuartal ketiga 2017, GP Farmasi memperkirakan ada pertumbuhan sebesar 5% dibandingkan kuartal ketiga tahun lalu. "Jumlah ini tidak besar tidak sampai dobel digit," ujar Vincent.

Setidaknya ada dua persoalan yang bakal dihadapi pelaku bisnis farmasi tahun 2018 ini. Pertama soal peraturan proteksi lingkungan yang dilakukan pemerintah China menekan produksi bahan baku obat. Kedua, karena bahan baku banyak yang impor dari China, mata uang yuan yang menguat terhadap dollar AS mempengaruhi harga bahan baku tersebut.

China diketahui melakukan environmental protection terhadap industri kimia, dengan standar yang ketat pabrikan yang dianggap tidak layak beroperasi dipaksa tutup. Hal ini menyebabkan pasokan bahan baku menjadi semakin berkurang.

 

Sementara itu, bahan baku farmasi Indonesia kebanyakan diimpor dari China dengan menggunakan dollar AS. Mata uang yuan yang menguat terhadap dollar AS akhir-akhir ini melambungkan harga bahan baku. "Sedangkan 95% kebutuhan bahan baku obat saat ini masih impor," urai Vincent.