JAKARTA - Ketua Umum PMMC Kendrariadi Suhanda memprediksikan di tahun 2025 pangsa farmasi di Indonesia mencapai Rp 700 triliun dengan kategori ekspor mencapai Rp 200 triliun. Hal itu cukup menggembirakan bagi pemasukan pada pemerintah melalui dunia farmasi. “Upaya memenuhi semua itu diperlukan perbaikan dan pertumbuhan dunia industri farmasi di Tanah Air. Sementara dari tahun ke-tahun mulai 2017 hingga kini peningkatan farmasi hanya mencapai 10 persen dari total pemasukan Rp73 triliun,”jelas Kendra disela-sela pamaeran CPhI SEA di Jakarta, Selasa (27/3).

Kendra melanjutkan, kemajuan dunia farmasi di Indonesia sebagian besar didatangkan dari China, Korsel dan kawasan Eropa. Hal itu terjadi karena hubungan perusahaan farmasi dengan China cukup bagus. Bahkan bahan baku dan obat-obat yang ada juga diimpor dari China, begitu juga dengan alat-alat kesehatan.

Dengan begitu katanya, dunia farmasi di Indonesia hanya mendapatkan sekitar 10 persen saja yang diekspor ke negara tetangga. Pengiriman bahan baku dan obat-obatan seperti itu harus ditingkatkan di tahun-tahun mendatang. Dengan harapan, penghasilan negara melalui dunia farmasi terus mengalami peningkatan cukup pesat.

Kendra mengakui, dunia farmasi saat ini mencapai 214 hingga 224 perusahaan, 4 diantaranya berada dalam naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Biofarma, Indofarma, Kimia Farma dan Phapros. Adapun 24 lagi merupakan multinasional serta 196 perusahaan milik swasta nasional Indonesia.

Ia menambahkan, pangsa pasar farmasi di Indonesia mengalami peningkatan pesat bila penghasilan perkapita masayarakat Indonesia bertambah. Dengan begitu peningkatan pengeluaran untuk kesehatan mencapai 5 persen. Seperti halnya melalui Kartu Indonesia Sehat, Peningkatan daya saing ekspor dan peningkatan kompetensi riset ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini yang membuat pendapatan melalui farmasi meningkat hingga Rp 700 triliun di tahun 2025. (warso/tph)