JAKARTA - Dunia farmasi masih mengalami gonjang-ganjing dalam segi bahan baku dan pemasaran. Semua itu tidak terlepas kurangnya dana kesehatan yang dikucurkan dalam program BPJS, apalagi pemerintah daerah belum memberikan bantuan yang signifikan sesuai dengan kekuatan penghasilan yang diperoleh didaerahnya. "Hal itu tentunya cukup menghambat dan mempengaruhi dunia farmasih di Tanah Air. Saya berharap, ada kapastian dukungan dari berbagai daerah sesuai dengan dana yang dihasilkan. Dukungan dana kesehatan daerah melalui APBD tidak bisa disamaratakan dan disesuaikan dengan penghasilan di daerah setempat,"jelas Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi, Darojatun Sanusi disela-sela pameran CPhI South East Asia 2018 di Hall D JIExpo Jakarta, Rabu (28/3).

Ia mengakui, dengan adanya BPJS kebutuhan permintaan produk meningkat pesat, meski keuntungan yang diterima para produsen belum menentu arahnya. Biasanya produsen hanya mengalami permintaan melanjok, namun bayaran yang akan diterima waktunya cukup panjang. Hal inilah yang mempengaruhi kondusi produsen dalam bisnis dunia farmasi.

Ketika disinggung sampai kapan kondisi seperti itu akan berlanjut? Darojatun menegaskan, menunggu keputusan rapat anggota DPR RI yang masih digodok dalam waktu dekat ini. Mudah-mudahan pembahasan menyangkut dunia farmasih cepat selesai dan produsen cepat mengalami keuntungan sesuai yang diharapkan.

Begitu juga dengan perdebatan "halal dan haram" suatu produk obat yang bahannya sebagian besar didatangkan dari luar negeri. Kondisi seperti itu tentunya sulit dijawab, bila bahan bakunya atau obatnya sendiri diimpor dari luar. Dengan begitu tentunya ada tim yang memverifikasi apakah obat yang didatangkan dari luar sudah halal atau tidak. "Adanya tim verifikasi bahan baku atau obat yang didatangkan dari luar negeri inilah yang nantinya bisa menentukan boleh masuk ke Indonesia atau tidak sebelumĀ  diproduksi. Dengan begitu, lebih memberikan kepercayaan pada konsumen bahwa bahan baku atau obat yang dikonsumsi sudah dinyatakan "Halal","tegas Darojatun.

Menurutnya, bahan baku obat sementara ini sebagian besar mengandalkan dari impor, meski ditingkat ASEAN sendiri pangsa pasar terbesar dari Indonesia. Namun semua itu terus dicari jalan keluarnya dan memperbanyak produksi didalam negeri dengan menggunakan bahan baku dari Indonesia sendiri. Namun kalau tidak, maka akan mudah muncul kata-kata "Halal-Haram" lagi.(warso)