KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri farmasi termasuk salah satu sektor usaha yang terdampak wabah korona (Covid-19). Sama seperti industri lain, penjualan farmasi juga menurun. Hanya produk obat yang peruntukannya masih terkait Covid-19, seperti vitamin C yang mengalami lonjakan permintaan. Selain itu, dampak Covid juga membuat pasokan bahan baku farmasi dari Tiongkok tersendat. Sementara Industri farmasi di Indonesia sangat bergantung dengan pasokan bahan baku dari China. Untuk mengetahui lebih jauh kondisi industri farmasi saat ini, Ketua Umum Gabungan erusahaan (GP) Farmasi F. Tirto Koesnadi memaparkannya kepada wartawan Tabloid KONTAN, Andy Dwijayanto, Selasa (12/5).

Berikut nukilannya:

KONTAN: Bagaimana proyeksi pertumbuhan industri farmasi tahun ini dibandingkan tahun lalu?

TIRTO: Dalam situasi begini rasanya tidak akan ada pertumbuhan yang menarik, kalau bisa sama dengan tahun lalu sudah baik. Karena persoalan industri farmasi dalam kondisi sekarang juga menghadapi banyak persoalan.

Obat yang sekarang diminta selalu obat Covid-19. Padahal, itu virus baru datang beberapa bulan, kita pasti bingung kalau diminta seperti itu.

Sementara obat-obat yang lain itu menurun karena banyak sekali orang tidak berani ke rumah sakit dan puskesmas lantaran takut tertular Covid-19. Tapi kalau yang peruntukannya masih terkait Covid, seperti vitamin C itu memang meledak-ledak.

Peningkatan tahun lalu tidak besar, sekitar 4%. Nah, tahun ini mungkin bisa lebih rendah dari 4%. Sebab, kami tidak bisa alihkan produksi karena semua obat dan vitamin harus teregister di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kalau tadinya tidak punya produk vitamin dan mendadak produksi itu tidak mungkin karena kita harus register dulu obatnya, dan itu perlu waktu 3-4 bulan.

KONTAN: Industri farmasi sendiri kabarnya sedang berlomba-lomba mencari dan mengembangkan obat anti virus korona, bagaimana perkembangan terbarunya?

TIRTO: Penelitian soal vaksin itu tidak mungkin dalam 3-5 bulan, biasanya bertahun-tahun. Orang ribut Covid mulai Desember, dan ini baru Mei.

Artinya baru 5 bulan, kalau sudah bilang menciptakan vaksin itu penelitiannya berdasarkan apa? Orang men-develop vaksin itu bertahun-tahun paling cepat itu 1 tahun-2 tahun.

Kalau ada yang mengatakan sudah berhasil bikin vaksin itu harus dipertanyakan. Berkaca kasus SARS dan MERS itu vaksinnya baru diketemukan setelah wabah usai.

KONTAN: Tadi Anda sebut sales obat non-Covid turun, lalu sejauh mana dampaknya terhadap industri farmasi?

TIRTO: Sampai sekarang farmasi belum lay off, tetapi kalau keadannya makin buruk saya tidak tahu. Hanya paling kami kurangi tenaga outsource yang membantu packaging karena salesnya menurun.

Otomatis banyak yang menganggur ya, diberhentikan dulu tidak dilanjutkan kontraknya. Tetapi pegawai tetap sih belum ada yang di-PHK. Kalau bilang industri farmasi bertumbuh sih tidak, tetapi kami sektor yang bertahan di tengah Covid-19..

KONTAN: Kalau untuk bahan baku sendiri apakah ada kendala?

TIRTO: Sebenarnya saat ini bahan baku untuk produk yang sudah reguler itu rata-rata masih punya stok bahan baku sampai Juli-Agustus. Cuma yang menjadi masalah untuk pembelian bahan baku baru ini yang menjadi sulit.

Saat ini, bukan hanya Indonesia yang butuh bahan baku obat, seluruh dunia butuh bahan baku. Apalagi dengan penghentian produksi Tiongkok untuk mengurangi penularan Covid. Sementara bahan baku obat Indonesia itu 60% dari Tiongkok. Dunia juga 60% kebutuhan bahan baku obatnya itu dari Tiongkok.

Setelah dihentikan dan dibuka kembali, Tiongkok tidak bisa seketika memenuhi semua permintaan. Akibatnya, siapa yang mau bayar di depan maka disiapkan bahan bakunya oleh mereka.

Sedangkan, kemampuan industri farmasi kita untuk bayar di depan itu tidak sekuat negara lain.

KONTAN: Pemerintah berencana membangun industri bahan baku farmasi dengan mengundang investor asing, sejauh mana kesiapan kita?

TIRTO: Kalau menurut saya kesiapan dan kemampuan itu ada, tetapi sangat tergantung dengan kemauan dari investor yang ada. Investasi ke Indonesia ini banyak pertimbangan, antara lain faktor buruh.yang sulit dikendalikan.

Sekarang perusahaan di bawah GP Farmasi yang berlabel perusahaan nasional ada 185. Sedangkan yang asing saat ini tinggal 23 atau 13% saja, sangat sedikit.