TEMPO.CO, California - Gilead Sciences Inc mempublikasikan hasil uji terbarunya atas penggunaan antivirus remdesivir sebagai kandidat obat Covid-19. Menurut Gilead, tidak ada perbedaan signifikan antara pengobatan selama 5 dan 10 hari pada pasien dengan gejala yang parah.

Uji dilakukan 29 April 2020 dan temuan-temuan pentingnya telah diumumkan dalam makalah di New England Journal of Medicine. Uji ditujukan untuk melengkapi yang telah dilakukan National Institutes of Health Amerika Serikat--uji yang digunakan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat remdesivir.

Uji oleh Gilead melibatkan 397 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, sebagian besar tidak menggunakan ventilator. Gilead mengatakan studi, yang tidak mencakup perbandingan plasebo, menunjukkan bahwa per 14 hari setelah pengobatan dengan obat intravena, sebanyak 64 persen pasien yang mendapat pengobatan selama 5 hari dan 54 persen yang diobati selama 10 hari menunjukkan beberapa pemulihan klinis.

Gilead meminta hasil tersebut jangan diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa pemberian obat dengan durasi yang lebih singkat bekerja lebih efektif. Alasannya, bukti hasil yang lebih baik terjadi sejak dini, mengarahkan para peneliti untuk menghubungkan perbedaan keseimbangan dalam status pasien saat pendaftaran.

Sementara itu, setelah 14 hari juga, sebanyak 8 persen pasien dari kelompok 5 hari pengobatan dan 11 persen dari kelompok 10 hari meninggal. Efek samping selama pengobatan meliputi mual dan memburuknya gagal pernapasan.

Gilead menyebutkan, 2,5 persen dari pasien di kelompok 5 hari dan 3,6 persen dari kelompok 10 hari menghentikan pengobatan akibat peningkatan enzim hati.

Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS memberi izin penggunaan darurat remdesivir pada 1 Mei 2020. Badan itu mengutip hasil studi berbeda yang dijalankan oleh National Institutes of Health yang menunjukkan bahwa obat tersebut mengurangi rawat inap tetap hingga 31 persen dibanding pengobatan plasebo.

Gilead mengatakan masih akan menguji remdesivir pada pasien Covid-19 yang lebih moderat sekitar akhir bulan ini. Perusahaan farmasi itu nantinya menjanjikan donasi 1,5 juta dosis antivirus yang awalnya didesain untuk obat Ebola itu, atau cukup untuk mengobati sedikitnya 140 ribu pasien, guna melawan pandemi global Covid-19.